Sabtu, 09 September 2017

File Service Di Dalam Sistem Terdistribusi

Pada bahasan kali ini akan dipaparkan tentang file service di dalam sistem terdistribusi. Tujuan pembahasan ini agar pembaca dapat memahami apa saja yang terjadi di dalam sistem terdistribusi sehingga sistem dapat berjalan dengan baik. Terlebih dahulu memahami file sistem terdistribusi atau dalam istilah bahasa inggris adalah Distributed File System (DFS). DFS adalah file sistem yang mendukung sharing files dan resources dalam bentuk penyimpanan persistent di sebuah network. File server pertama kali di kembangkan pada tahun 1970 dan Sun NFS (Network File System) menjadi DFS pertama yang banyak digunakan setelah awal muncul di tahun 1985. DFS yang terkenal selain NFS adalah AFS (Andrew File System) dan CIFS (Common Internet File System).
Sebuah file server menyediakan file service ke client. Dari sisi client terdapat interface untuk file service dalam hal operasi primitif file, seperti membuat file (create), menghapus (delete) dan read /write file. Komponen perangkat keras utama yang mana file server mengontrolnya adalah sebuah local storage (umumnya disk drive / HDD). Ditempat itulah file-file tersimpan dan dari tempat tersebut request client meretrive file. Pada DFS client, server dan juga perangkat penyimpanan merupakan mesin terpisah dalam sebuah lingkungan terdistribusi (Intranet). Jadi, aktifitas layanan (service) dibawa melewati jaringan (network), jadi selain sistem memiliki satu data terpusat, sistem memiliki beberapa perangkat penyimpanan independent. Konfigurasi konkret dan juga implementasi dari sebuah DFS dapat beragam bentuknya. Dalam beberapa konfigurasi, server berjalan sebagai dedicated machine (layanan terpusat) atau juga menjadi server dan client. DFS dapat diimplementasikan sebagai bagian dari Sistem Operasi Terdistribusi dengan sebuah layer software yang tugasnya mengatur komunikasi antara sistem operasi konvensional dan file system.
Parameter untuk mancapai DFS adalah transparansi. Secara ideal, DFS terlihat sebagai bentuk file system terpusat, faktor keseragaman (multiplicity) dan penyebaran server serta perangkat penyimpanan tidak terlihat oleh user. Oleh karena itu interface client yang digunakan program tidak akan membedakan antara file local dan remote. Semuanya tergantung dari implementator DFS untuk mengalokasikan file-file dan menyusun transportasi data. Kelebihan lain dari DFS adalah peningkatan performa. Yang menjadi tolak ukur pengukuran performa DFS adalah waktu yang dibutuhkan untuk merespon request layanan.
Saling berbagi media penyimpanan informasi sudah menjadi sesuatu hal yang penting dalam resource sharing. Desain service file terdistribusi yang baik adalah menyediakan akses distribusi file dengan performansi dan realibilitas yang sama atau lebih baik dari penyimpanan file-file dalam disk local dalam bentuk transparent.
Desain skala besar dari proses sistem penyimpanan baca tulis file pada wide area menimbulkan masalah pada load balancing, reliabilitas, avaibility dan security. File sistem yang terdistribusi mengemulasikan fungsionalitas dari file sistem tak terdistribusi untuk program client yang berjalan pada komputer remote. File sistem terdistribusi juga menyediakan hal-hal pokok untuk pengorganisasian komputer yang berbasiskan jaringan intranet.  

Pengenalan File Service

File service adalah suatu perincian atau pelayanan dari file system yang ditawarkan pada komputer client. Suatu file server adalah implementasi dari file service dan berjalan pada satu atau lebih mesin. File itu sendiri berisi dari nama, data dan atribut file seperti kepemilikan file, ukuran, waktu pembuatan file dan hak akses file. File sistem merupakan mekanisme penyimpanan on-line serta untuk akses, baik data maupun program yang berada dalam sistem operasi.  

Karakteristik dari File System

File Sistem adalah bertanggung jawab untuk pengorganisasian, penyimpanan, pencarian keterangan, penamaan, sharing atau pembagian dan protection atau perlindungan dari file-file. File berisi dari dua bagian penting yaitu data dan atribut. File sistem didesain untuk menyimpan dan mengatur banyak dan besar file dengan fasilitas untuk membuat, memberi nama dan menghapus file. File system juga bertanggung jawab untuk pengontrolan dari akses file, akses terbatas ke file oleh user yang berhak dan tipe-tipe dari akses yang diminta.

Operasi pada file (=data + atribut) 

  1. Create / delete 
  2. Query / Modifikasi Atribut 
  3. Open / Close 
  4. Read / Write 
  5. Akses Kontrol

Organisasi penyimpanan 

  1. Struktur direktori (hirarki, pathname) 
  2. Metadata (pengaturan informasi file) : atribut file, informasi struktur direktori, dan lain-lain  

Atribut File

File adalah kumpulan informasi berkait yang diberi nama dan direkam pada penyimpanan sekunder. Atribut file terdiri dari :
  1. Nama. Merupakan satu-satunya informasi yang tetap dalam bentuk yang bisa dibaca oleh manusia (human readable form) 
  2. Type. Dibutuhkan untuk sistem yang mendukung beberapa tipe berbeda 
  3. Lokasi. Merupakan pointer atau penunjuk ke device dan lokasi file pada device tersebut berada 
  4. Ukuran (Size). Ukuran file pada saat itu, baik dalam byte, huruf ataupun blok 
  5. Proteksi. Informasi mengenai kontrol akses, misalnya siapa saja yang boleh membaca, menulis dan mengeksekusi file 
  6. Waktu, tanggal dan identifikasi pengguna. Informasi ini biasanya disimpan untuk : Pembuatan file, Modifikasi terakhir yang dilakukan pada file, Penggunaan terakhir file.  

Struktur File System 


  1. Modul direktori : menghubungkan nama file dengan ID file
  2. Modul File : menghubungkan ID dengan file tertentu
  3. Modul Akses Kontrol : memeriksa permission utuk operasi yang diminta
  4. Modul Akses File : read / write data file atau atribut
  5. Modul Blok : akses dan alokasi blok disk
  6. Modul Perangkat : disk I/O dan buffering  

Komponen File service

Komponen-komponen file service adalah terdiri dari : 

  1. File Service. Pengoperasian dari masing-masing file. 
  2. Directory Service. Management atau pengaturan direktori 
  3. Naming Service
  • Location Independence : File dapat dipindahkan tanpa penggantian nama
  • Hal yang umum untuk penamaan file dan directori : 
  • Mesin + nama path e.g / machine / path atau machine : path 
  • Mounting File sistem secara remote kedalam hirarki local file. 
  • Single name space yang sama pada semua mesin.
  • Dua level penamaan : Nama simbolik yang dilihat user dan nama binary yang dilihat oleh sistem.      

Kebutuhan File System Terdistribusi

Transparansi (Client tidak menyadari adanya lingkungan terdistribusi) 

  1. Akses Transparan 
  2. Lokasi Transparan 
  3. Mobilitas Transparan 
  4. Performa Transparan 
  5. Scaling Transparan 
  6. Concurrent File Update 
  7. Replikasi File  
  8. Heterogenitas 
  9. Toleransi Kesalahan 
  10. Konsistensi 
  11. Keamanan 
  12. Efisiensi  

Kebutuhan File System Terdistribusi


  1. Transparency. Keseimbangan antara flesibilitas dan skalabilitas terhadap kompleksitas dan performansi dalam desainnya.
  2. Concurrent File Updates. Perbaruan file serentak bersamaan antara file server dan client. Kebanyakan arah sistem mengikuti standar UNIX dalam memberikan pelayanan advisory atau mendatory file atau record file level locking.
  3. File Replication. Replikasi dapat untuk share load, untuk mempertinggi fault tolerance, dan untuk mempertinggi scalability. Kebanyakan sistem yang ada dapat melayani caching dengan replication terbatas. Sebagian dapat melayani full replication.
  4. Hardware dan Operating Systems. Heterogenitas atau kesamaan adalah kebutuhan yang sangat penting dalam melayani keterbukaan.
  5. Fault Tolerance. Service harus terus menerus beroperasi walaupun terjadi kesalahan atau error pada client ataupun server
  6. Consistency
  7. Security. Semua sistem melayani mekanisme akses kontrol berbasiskan daftar akses kontrol (access control lists)
  8. Efficiency. Sistem harus dapat melayani perbandingan performance apakah lebih baik atau tidak.  
Opsi Desain dalam File Service 
- Stateful
- Stateless  
    

0 Komentar:

Posting Komentar